Aluminum battery, jenis Baterai Baru pengganti Lithium-Ion?

Share on Facebook0Tweet about this on Twitter0Share on Google+1Share on Tumblr

stanford_aluminum_battery

Dengan semakin berkembangnya portable device seperti ponsel, tablet hingga laptop. Maka, kebutuhan akan rechargeable batteries pun tentu semakin bertambah pula. Jenis rechargeable batteries yang paling umum saat ini adalah lithium-ion (LiOn), nickel-metal hydride (NiMH) dan nickel-cadmium (NiCd).

Meskipun jenis baterai isi ulang cukup beragam, tidak semuanya memiliki kesamaan. Jenis baterai NiCd adalah yang cukup sering kita jumpai pada model AAA, tapi jenis ini memiliki kelemahan yaitu adanya memory effect. Memory effect terjadi ketika kita mengisi ulang baterai tersebut padahal ia belum benar-benar habis sehingga kapasitasnya akan berkurang seiring waktu.

Berbeda dengan NiCd, jenis NiMH dapat mengatasi masalah memory effect namun umurnya tidak bertahan lama. Jenis baterai Lithium-ion dan Lithium Polymer kemudian muncul dengan segala keunggulannya, dapat mengatasi memory effect, beroperasi pada tegangan yang lebih tinggi, lebih kecil dan ringan. Namun kedua jenis baterai ini tidak tersedia pada model standar AAA, AA, C maupun D. Selain itu harganya pun sangat mahal.

Sebuah penemuan revolusioner akhirnya terwujud dan disinyalir akan menggantikan jenis baterai Lithium-ion kedepannya. Para ilmuwan mengklaim bahwa jenis baterai baru ini memiliki daya penyimpanan yang lebih lama, lebih fleksibel, bahkan tidak akan meledak jika terkena api.

Para ilmuwan tersebut tergabung dalam sebuah tim yang dipimpin oleh Honglie Dai yang merupakan Professor Kimia dari Standford University. Mereka telah mengembangkan jenis baterai baru yang diberi nama aluminum and graphite battery. Baterai ini sangat mudah untuk dibuat, bahkan tidak akan meledak jika terkena api meskipun baterai ini dilubangi. Baterai ini pun mampu di-charge berulang-ulang hingga ribuan kali tanpa terjadi degradasi pada kapasitasnya.

Jenis baterai berbasis aluminium sebenarnya sudah pernah dikembangkan sebelumnya, namun jenis baterai yang diciptakan Dai dan timnya ini memiliki potensi yang lebih tinggi untuk dapat menggantikan jenis lithium-ion.

Dari segi konstruksi, baterai ini terdiri dari aluminum anode, graphite cathode, ionic liquid electrolyte, dan polymer fleksibel yang sekaligus berperan sebagai casing. Yang menarik adalah susunan elektrolit yang digunakan pada baterai ini menggunakan garam yang mencair pada suhu kamar sehingga tidak akan meledak jika terkena api.

Sayangnya, voltase dan kerapatan energi yang dimiliki baterai ini kadarnya hanya separuh dari nilai yang dimilki jenis baterai lithium ion yang ada saat ini. Meski begitu, mereka tetap optimis dapat menyiasati hal tersebut dengan pengembangan lebih lanjut pada komponen graphite cathode. Setidaknya, fakta bahwa kemampuan siklus pengisian dan pengosongan baterai ini mampu mencapai 7500 kali tanpa sedikit pun terjadi penurunan kapasitasnya. Sebagai perbandingan, baterai lithium-ion saat ini hanya mampu mencapai 1000 siklus saja.

Melihat kemampuan dari jenis baterai baru ini, tampaknya baterai lithium-ion akan benar-benar tergantikan. Hal ini tentu tinggal menunggu waktu saja hingga pengembangan baterai ini mencapai tahap final dan siap dilepas ke pasaran.

 

Share on Facebook0Tweet about this on Twitter0Share on Google+1Share on Tumblr

Comments

comments

One Comment

Add a Comment