Mengenal Lebih Jauh Mengenai Intel Perceptual Computing

Share on Facebook0Tweet about this on Twitter0Share on Google+0Share on Tumblr

Jika Anda lahir pada era tahun 80-an maka saat ini Anda adalah saksi berkembangnya teknologi yang sangat pesat khususnya teknologi komputer dalam kurun waktu 20 tahun.

Bila menengok ke belakang, Anda  tentu mengalami bagaimana sulitnya berinteraksi dengan komputer, di mana input berupa teks merupakan satu-satunya jalan untuk dapat berinteraksi dengan komputer yang dieksekusi melalui keyboard. Kemudian,  lahirlah mouse yang semakin mempermudah Anda dalam mengendalikan komputer dan mengeksplor seluruh konten yang ada di dalamnya. Dengan mouse yang dikombinasikan bersama keyboard, produktivitas Anda dalam berkomputasi semakin tinggi  dan lebih efektif.

Pada tahun 2000-an jenis gadget serta perangkat elektronik mulai membanjiri pasar dunia dengan konsep interaksi secara touchscreen. Hal tersebut memungkinkan penggunanya untuk dapat mengakses komputer langsung dengan jari ataupun dengan bantuan stylus pen. Padahal jika ditelusuri sebenarnya konsep touchscreen bukanlah hal yang baru, bahkan sudah pernah diproduksi pada tahun 1982 di mana merupakan produk televisi yang diciptakan oleh G. Samuel Hurts. Melihat hal tersebut, maka akan timbul pertanyaan, mengapa pada saat itu tidak bisa berkembang seperti sekarang? Jawaban yang paling logis atas pertanyaan tersebut tentu saja adalah biaya riset dan produksi untuk merealisasikan hal tersebut di mana teknologi pendukungnya pun tentu sangat terbatas dibandingkan sekarang. Kemudian yang kedua adalah ukuran dan harga perangkat yang sudah tentu tidak akan se-simpel dan se-praktis perangkat komputer saat ini.

Minat user terhadap perangkat touchscreen semakin tinggi dengan hadirnya dukungan sistem operasi seperti Android, Blackberry OS,  iOS, Windows 8 dan Windows Phone yang memungkinkan penggunanya mengakses seluruh konten dengan hanya menggeser dan melakukan sentuhan jari saja. Dukungan berbagai aplikasi berbasis sentuhan juga semakin memanjakan user dalam mengoperasikan gadget atau perangkat komputer mereka dengan pengalaman baru yang lebih mengasyikan.

Melihat hal ini, sepertinya perkembangan teknologi memang tidak ada habisnya. Pada ajang CES 2014, dua raksasa teknologi di bidang processor yaitu AMD dan Intel mendemonstrasikan konsep terbaru dalam berkomputasi yang dikenal dengan istilah Perceptual Computing. Konsep ini merupakan cara baru berinteraksi dengan komputer yang melibatkan panca indera yang kita gunakan.  Konsep dari teknologi Perceptual Computing masih belum familiar bagi user saat ini namun kedepannya teknologi ini mampu menggantikan teknologi konvensional yang saat ini masih digunakan.

Untuk mengetahui lebih lanjut mengenai perceptual computing, simak kelanjutan artikel ini.

Perceptual Computing

Seperti disebutkan sebelumnya, tahun 2014 merupakan waktu yang tepat bagi para perusahaan pembuat chip untuk mempromosikan teknologi terbaru mereka berbasis perceptual computing.

Sebenarnya apa itu perceptual computing, tepatnya? Jika Anda pernah melihat Microsoft Kinect, tentu Anda bisa langsung menyimpulkan bahwa teknologi tersebut merupakan adaptasi yang dihadirkan Microsoft lewat produk konsolnya. Pernyataan tersebut memang bisa dikatakan benar namun tidak sepenuhnya benar. Perceptual computing bukanlah sebuah produk atau platform. Namun lebih tepatnya adalah sebuah open-ended vision layaknya cloud computing di mana memberikan kemungkinan lebih luas kepada komputer untuk memaksimalkan kemampuannya.

Dengan perceptual computing, interaksi antar komputer dengan user diharapkan dapat lebih menyatu. Hal ini bukan berarti interaksi lewat keyboard ataupun mouse akan tergantikan. Lebih tepatnya menambahkan mode interaksi baru. Hal ini dibenarkan dengan pernyataan dari Barry Solomon selaku strategic planner Intel yang mengatakan “ kami tidak mencoba untuk mengganti apapun. Kami hanya berusaha mencoba untuk menambah mode interaksi. Kami menambahkan indera ke otak komputer sehingga dapat melihat sekitarnya dan mampu mengenali siapa yang berinteraksi dengannya (komputer) ini membuat interaksi lebih intuitif ”.  Melalui perceptual computing user dapat berinteraksi dengan  augmented reality, gerakan tangan , pelacakan jari, pengenalan suara, hingga analisa wajah pengguna. Teknologi Perceptual Computing ini akan mengubah cara interaksi orang dengan PC dengan cara yang lebih intuitif, alami dan menarik.

Sebenarnya momentum terhadap interaksi komputasi baru telah terkumpul selama satu dekade. Orang-orang mulai meggunakan sensor gerak untuk berinteraksi dengan konsol game seperti Microsoft Xbox dan Nintendo Wii. Saat ini notebook/ desktop PC  masih dikatakan primitif karena masih menggunakan satu mata (webcam), satu telinga (microphone) serta yang paling mutakhir adalah touchscreen. Bila dibandingkan dengan sensor gerak, maka interface touchscreen untuk mengontrol smartphone, tablet dan ultrabook menjadi biasa. Dengan menambahkan sistem indera layaknya yang dimilki manusia maka kita dapat berinteraksi secara natural dengan komputer. Tidak hanya sebatas komputer desktop tetapi juga smartphones, tablets, media boxes, vending machines,  dan seluruh perangkat apapun yang terhubung dengan internet.

Untuk mempromosikan teknologi ini, Intel telah merilis Intel Perceptual Computing SDK di mana ini akan membantu para developer untuk mengetahui mekanisme kerja sistem tersebut sehingga memudahkan dalam mengembangkan konsep aplikasi ataupun game sesuai untuk dikendalikan melalui perceptual computing. Melalui SDK tersebut tersedia pula beberapa demo apps seperti Augmented Farm, Glass Balls, Head Coupled Perspective, Remote Control, dan Depth Ball yang dirancang untuk memamerkan beberapa fungsi dasar dan kelebihan yang bisa dihadirkan oleh Intel perceptual computing.

Selain dukungan software, perceptual computing juga membutuhkan dukungan device tambahan yaitu webcam Creative Senz 3D yang merupakan interaktif gesture camera dan sudah dilengkapi dual array microphone yang memberikan tingkat akurasi lebih baik.

Untuk menggunakannya user dapat memasangnya dengan cara menjepitkan pada layar notebook lalu menghubungkan konektor USB ke port USB yang tersedia di perangkat komputer atau desktop PC Anda.

Share on Facebook0Tweet about this on Twitter0Share on Google+0Share on Tumblr

Comments

comments

2 Comments

Add a Comment