Mengenal Teknologi UEFI

Share on Facebook0Tweet about this on Twitter0Share on Google+0Share on Tumblr

uefi logoTeknologi BIOS (basic Input Output System) merupakan teknologi konvensional yang masih mampu bertahan hingga saat ini dalam kurun waktu lebih dari 25 tahun. Namun pada akhirnya ia akan segera tergantikan oleh Teknologi UEFI (Unified Extensible Firmware Interface).

Kita mungkin sudah tidak asing dengan istilah BIOS,yang merupakan akronim dari Basic Input Output System, dalam sistem komputer IBM PC atau kompatibelnya (komputer yang berbasis keluarga prosesor Intel x86). BIOS berisi kumpulan rutin perangkat lunak yang mampu melakukan hal-hal berikut:

  1. Inisialisasi serta pengujian terhadap perangkat keras dalam proses yang disebut dengan Power On Self Test (POST).
  2. Memuat dan menjalankan sistem operasi.
  3. Mengatur beberapa konfigurasi dasar dalam komputer (tanggal, waktu, konfigurasi media penyimpanan, konfigurasi proses booting, kinerja, serta kestabilan komputer).
  4. Membantu sistem operasi dan aplikasi dalam proses pengaturan perangkat keras dengan menggunakan BIOS Runtime Services.

BIOS merupakan suatu kode software yang ditanam di dalam suatu sistem komputer yang memiliki fungsi utama untuk memberi informasi visual pada saat komputer dinyalakan, memberi akses ke keyboard dan juga memberi akses komunikasi secara low-level diantara komponen hardware, seperti untuk me-load sistem operasi dari storage ke RAM. BIOS dapat disebut sebagai miniatur dan suatu sistem operasi yang dikhususkan untuk komunikasi low-level pada hardware. BIOS biasanya ditulis dalam bahasa assembly atau mesin dimana bahasa ini biasanya spesifik kepada suatu prosesor tertentu.

Apa sebenarnya UEFI?

UEFI merupakan solusi masalah pre-booting yang selama ini jadi kendala pada BIOS konvensional, dimana sebenarnya ia merupakan software yang dikembangkan dari BIOS juga. Ia akan bekerja sesaat setelah komputer dinyalakan dan akan berisi berbagai informasi mengenai spesifikasi komputer dan interface antara sistem operasi dan platform firmware pada saat boot, dan akan mendukung mekanisme arsitektur untuk menginisialisasi input/output.

UEFI BIOS pada motherboard ASUS

UEFI BIOS pada motherboard ASUS

 

Sebenarnya, UEFI bukanlah hal baru karena pada tahun 2000 Intel sudah  mengembangkan teknologi ini, yang pada saat itu bernama EFI (Extensible Firmware Interface) yang berbasis pada arsitektur Itanium. Namun sejak tahun 2005 intel menghentikan pengembangan EFI yang berakhir pada versi 1.10 dan  konsep tersebut kemudian diserahkan pada forum UEFI,  Forum yang beranggotakan produsen-produsen terkenal seperti AMD, AMI, Apple, Dell, HP, IBM,Insyde, Intel, Lenovo, Microsoft, dan Phoenix. Forum ini akan mengelola dan mempromosikan standar baru untuk seluruh industri komputer. Pada 7 Januari 2007 UEFI merilis versi 2.1 yang sudah dilengkapi cryptography, network authentication, dan User Interface Architecture (Human Interface Infrastructure in UEFI). Kemudian versi 2.3 dirilis pada bulan Mei 2009 dan digunakan hingga sekarang.

BIOS vs UEFI

Tidak ada yang salah dengan BIOS, terbukti ia mampu bertahan selama 25 tahun, mengalahkan beberapa kompetitornya yang notabene memodifikasi konsep dasar BIOS. Sebut saja clone BIOS dan ARC (Advanced RISC Computing), namun pada akhirnya memiliki kelemahan pada evolutionary path, extensibility, dan possible system diversity.

Walaupun BIOS masih bertahan hingga saat ini, tetap saja ia bergantung pada arsitektur x86 dengan  16-bit interfaces, keterbatasan ukuran kapasitas ROM execution ( 1 MB) dan ukuran image, missing modularity, serta keterbatasan jumlah device yang dapat diinisialisasi. Selain itu ia tidak dirancang untuk keragaman hardware yang cukup pesat saat ini.

UEFI menyediakan independent hardware dan interface yang terbagi menjadi boot dan runtime services. Boot services meliputi inisialisasi boot, file service, serta textual dan graphical user console. Sedangkan runtime service meliputi tanggal, waktu dan NVRAM (Non-Volatile Random Access Memory) service. Untuk mengaktifkan atau memfasilitasi komunikasi antar device, semua driver EFI dan komponen berkomunikasi melalui protokol tertentu. Ia tidak terbatas pada arsitektur prosesor tertentu, ia dapat berjalan diatasnya atau bahkan menggantikan BIOS konvensional.

Ada beberapa alasan mendasar mengapa UEFI dipastikan akan menggantikan BIOS :

  1. Drive Size Limits

Ketika harddisk berkapasitas besar hingga 3 TB muncul di pasaran, UEFI menjadi sangat penting karena kebutuhan GUID Partition Table (GPT) untuk menggantikan Master Boot Record (MBR) yang memiliki keterbatasan dalam membaca harddisk hingga 2 TB saja. GPT menggunakan basis 64-bit sehingga dapat mendeskripsikan harddisk hingga 9,4 Zettabyte (9,4 x 1021). Tidak hanya itu GPT juga dapat mengatasi masalah-masalah yang berkaitan dengan MBR seperti integritas data, backup table, dan jumlah maksimum partisi.

  1. Pre-Boot Networking

Protokol untuk networking saat ini umumnya masih menggunakan IPv4. Namun  IPv6 akan segera menggantikannya setelah dikembangkan pada beberapa tahun terakhir. UEFI menyertakan IPv6 juga pada spesifikasinya. Sehingga network booting dan kemampuan remote jarak jauh terintegrasi tampaknya akan menjadi standar baru untuk networking.

  1. Pre-Boot Application

Aplikasi yang dapat kita akses pada pre-boot, adalah kelebihan yang paling menonjol dari UEFI. Beberapa diantaranya adalah sistem diagnosa, memory test, live update, game, utilities, system recovery dan masih banyak lagi tergantung manufaktur karena ia bersifat independent hardware.

  1. Tampilan Interface UEFI

Hal yang cukup menarik selain hal yang disebutkan di atas adalah tampilan pada UEFI. BIOS menggunakan VESA mode yang bertugas untuk mendefinisikan dukungan display adapter yang bergantung kepada software interrupt. Sedangkan UEFI menggunakan Graphic Outputs Protocol (GOP). Para developer beranggapan VBE tidak dapat mendukung untuk mode yang spesifik. Sehingga sangat sulit untuk membuat interface yang dapat bekerja untuk graphic card yang berbeda. GOP menggantikan VESA BIOS Extension (VBE) yang sangat kompleks dengan video buffer sederhana yang dapat mendukung untuk berbagai resolusi. Bagi beberapa orang, GUI untuk interface pada pre-boot memang bukanlah fitur yang terlalu penting. Namun seiring dengan perkembangannya, kemudahan dan kepraktisan menjadi kelebihan tersendiri fitur ini. Bagaimana tidak? Dengan adanya GUI pada UEFI menjadikannya dapat diakses menggunakan mouse atau bahkan dukungan layar dan interface gesture generasi terbaru.

Share on Facebook0Tweet about this on Twitter0Share on Google+0Share on Tumblr

Comments

comments