Review ASUS STRIX R9 380X

Share on Facebook0Tweet about this on Twitter0Share on Google+0Share on Tumblr

Kembali kami menghadirkan pengujian produk video card dari brand yang sudah tidak asing lagi yaitu ASUS dengan tipe STRIX R9 380X. Seri Radeon R9 380X milik ASUS ini merupakan versi custom dengan perubahan cukup drastis jika dibandingan versi reference-nya. Dari dimensinya sendiri, video card milik ASUS ini tampak lebih bongsor jika dibandingkan dengan ukuran milik ASUS  STRIX R7 370 yang pernah kami uji sebelumnya.

 

 

 

Secara fisik ASUS STRIX R9 380X ini hadir dengan rancangan khas ASUS STRIX di mana bila diperhatikan bentuk video card ini menyerupai mata burung hantu yang menjadi maskot ASUS. Dukungan heatpipe berdiameter 10mm melengkapi solusi pendingin di video card ini. Terdapat 3 buah heatpipe yang menjulur keluar, di mana salah satu ujungnya berkontak langsung dengan permukaan GPU, sementara ujung yang lain terhubung dengan heatsink.

Fitur Direct CU II tetap menjadi andalan ASUS sebagai solusi masalah thermal pada produk video card-nya. Namun kali ini hadir dengan fitur tambahan fitur silent gaming, di mana video card akan beroperasi lebih hening tanpa putaran kipas. Selain lebih hening, fitur ini juga menekan penggunaan daya selama GPU masih bekerja dalam batas temperatur aman. Pada pengujian yang kami lakukan, dua buah kipas yang dikenal dengan istilah Dual Wing-Blade ini mampu menekan laju panas pada kondisi idle di suhu 35⁰C saja, di mana kipas di-set pada kecepatan 50%. Sementara pada kondisi full load,suhunya stabil di 70⁰C saat diberikan pembebanan dengan aplikasi game dan Furmark. Perlu diketahui, suhu operasional yang dimiliki oleh ASUS STRIX  R9 380X ini terbilang cukup rendah, masih di bawah nilai rata-rata suhu operasional dari video card lain di segmennya yang berada pada kisaran 39⁰C saat idle dan 71⁰C saat full load.

idle

Mengikuti trend konsep silent gaming, ASUS ternyata juga menerapkan 0dB fan design yang memungkinkan fan untuk berhenti berputar saat tidak terdapat pembebanan yang berarti. Perlu diingat, fitur ini dapat bekerja asalkan kecepatan fan diatur dengan setting auto. Menariknya, sejumlah game online seperti Counter Strike : Global Offensive, DoTA 2 ataupun League of Legends dapat dimainkan secara lancar tanpa membutuhkan fan di video card ini berputar. Dengan kata lain, game-game tersebut dapat berjalan dengan lancar menggunakan video card ini hanya dengan mengandalkan pendingin heatsink serta 10mm heatpipe yang diterapkan di video card ini. keuntungannya, tentu saja Anda akan merasakan pengalaman gaming yang hening (sesuai nama fiturnya 0dB fan design) tanpa terganggu dengan suara putaran kipas.

Untuk sisi performa, secara teknis GPU yang digunakan memang telah mengalami overclock bawaan pabrik dengan peningkatan hingga 6% bila dibandingkan dengan versi reference-nya. Sementara untuk memori clock-nya tidak terdapat perubahan yang berarti. Detailnya bisa Anda lihat di spesifikasi sebagai berikut.

Untitled

 

specs

klik pada gambar untuk melihat detail komparasi

Dibandingkan dengan konfigurasi core milik R9 390X, Radeon R9 380X ini memang lebih rendah baik dari nilai shader, TMU serta ROP-nya. Begitu pula nilai memory bus, bandwidth, hingga jumlah kapasitas memorinya yang hanya setengah dari milik R9 390X. Meski begitu, bila Anda perhatikan terdapat sejumlah kelebihan yang dimiliki R9 380X ini, diantaranya adalah penggunaaan mikroarsitektur yang lebih advanced (GCN 1.2), serta nilai TDP yang lebih rendah.

Perlu dicatat, penggunaan mikroarsitektur GCN 1.2 ini ternyata memberikan sejumlah keuntungan dari segi kemampuan hardware. Selain itu, arsitektur ini mendukung sejumlah fitur terbaru yang dihadirkan AMD seperti VSR (Virtual Super Resolution) di mana user dapat menerapkan resolusi 4K pada jenis monitor 1080p (native) yang justru tidak di-support oleh video card R9 390X.

Pengujian

Seluruh data hasil pengujian merupakan hasil benchmark murni menggunakan aplikasi benchmark terkait dengan konfigurasi sistem seperti yang tercantum di bawah ini.

PLATFORM PENGUJIAN

  • Prosesor: Intel Core i7-6700K @4.0 GHz
  • Motherboard: GIGABYTE Z170X GAMING G1
  • Graphics Card: AMD Radeon R7 300/200, AMD Radeon R9 300/200
  • Memory: 4x 4GB Team DDR4 (@2400 MHz; 1.65 V)
  • Storage: Team Dark 120 GB
  • Power Supply: Xigmatek NRP 700W
  • CPU Cooler: Noctua NH-L9x65
  • Display: BenQ Monitor XL Gaming @1920 x 1080, (1440p 4K using VSR mode)
  • OS: Windows 10 Pro 64-bit
  • Driver: Radeon Software Crimson Edition 16.4.2 Hotfix

HASIL PENGUJIAN

Pada pengujian game Tomb Raider dengan setting Ultimate preset di resolusi 1080p, video card ini mampu mencetak skor 54 fps. Sementara pada resolusi yang lebih tinggi yakni 1440p, nilai yang diperoleh adalah 36 fps.

Pada game terbaru yakni Ashes of the Singularity, peran DirectX 12 diperlihatkan pada pengujian ini. Video card ini mampu memberikan hasil yang lumayan baik dengan nilai 33 fps pada resolusi 1080p dan 29 fps pada resolusi 1440p. Sejumlah scene yang ditampilkan pada game ini terbilang kompleks sehingga wajar saja bila hasil yang diperoleh tidak seperti hasil pada game-game yang lainnya.

 

 

 

 

Secara performa, kemampuan dari video card ini cukup bisa diandalkan untuk menjalankan berbagai game berat baik dengan resolusi tinggi sekalipun. Hal tersebut dibuktikan melalui pengujian yang sudah kami lakukan. Namun, peningkatan clock sebesar 6% saja, sepertinya tidak terlalu membawa peningkatan yang signifikan. Meski begitu, proses OC yang lebih tinggi untuk menghasilkan kemampuan maksimal masih sangat dimungkinkan mengingat fitur pendingin yang dimiliki video card ini sangat baik menekan laju panas.

VR Compatibility

Saat ini dukungan VR merupakan sebuah syarat “wajib” bagi sebuah video card mainstream serta seri diatasnya. Kami pun sempat mencoba mengujikan video card ini untuk mengetahui seberapa jauh dukungannya terhadap VR.

Saat ini terdapat dua buah aplikasi benchmark yang bisa digunakan oleh pengguna untuk mengetahui apakah sistem yang mereka gunakan VR ready atau tidak. Kedua aplikasi benchmark tersebut adalah SteamVR Performance Test dan Rift Compatibility Tool.

SteamVR Performance Test

SteamVR Performance Test, mengacu pada namanya merupakan aplikasi yang dihadirkan oleh Steam. Aplikasi ini secara teknis merupakan aplikasi benchmark yang berisi demo Valves Aperture Robot Repair yang berdurasi 2 menit. Saat menjalankan aplikasi ini, sejumlah komponen PC mulai dari prosesor, memori, sistem operasi serta GPU akan diuji. Jika sistem PC yang digunakan memenuhi kriteria, maka pada akhir pengujian akan muncul hasil berupa skor nilai yang mengindikasikan dukungan dan kemampuan PC Anda.

Hasil skor tersebut ditampilkan  dalam sebuah parameter dengan istilah average fidelity. Selain itu, indikasi kemampuan sistem juga diperlihatkan melalui pernyataan VR Not Ready, VR Capable, dan VR Ready.

VR Not Ready menunjukkan kemampuan sistem tidak mendukung sama sekali terhadap VR. Sementara untuk VR Capable dan VR Ready, menunjukkan dukungan kemampuan sistem terhadap VR.

VR

RIFT Comptibility Tool

Berbeda dengan SteamVR performance Test, RIFT Compatibility Tool tidak menghadirkan fitur benchmark berupa demo game atau video. Aplikasi yang dihadirkan Oculus ini lebih condong pada validasi spesifikasi saja.
Rupanya RIFT Comptibility Tool menggunakan sistem perbandingan spesifikasi hardware yang kita gunakan dengan versi reference milik mereka. Jika sistem yang kita gunakan ternyata memiliki spesifikasi lebih rendah maka otomatis tidak akan mampu mendukung Oculus RIFT diindikasikan dengan pernyataan “Your PC is not ready for Rift.” Meski begitu, RIFT Compatibility Tool ini tetap memberikan solusi di mana akan muncul spesifikasi hardware yang direkomendasikan sehingga Anda akan tahu spesifikasi hardware mana yang perlu diubah dan mana yang tetap dipertahankan.
oculus rift 1
Share on Facebook0Tweet about this on Twitter0Share on Google+0Share on Tumblr

Comments

comments

Add a Comment