Review Sapphire R7 360

Share on Facebook0Tweet about this on Twitter0Share on Google+0Share on Tumblr

Jajaran video card low-end merupakan solusi tepat yang bisa ditempuh oleh user yang ingin membangun sebuah PC dengan budget terbatas. Salah satu produk yang masuk kategori ini low-end ini dihadirkan oleh Sapphire lewat seri Sapphire R7 360 OC version. Meskipun masuk dalam kategori low-end video card, Radeon R7 360 ini masih bisa diandalkan untuk memainkan game-game popular saat ini seperti League of Legends, DoTA 2 ataupun CS : Go.

 

 

 

Secara teknis, video card pabrikan Sapphire ini mengusung GPU yang yang digunakan pada generasi sebelumnya yakni Radeon R7 260. Keduanya sama-sama menggunakan GPU Bonaire yang memiliki konfigurasi core dengan 768 SP, 48 TMU, dan 16 ROP. Meski memiliki konfigurasi yang mirip, nyatanya terdapat perbedaan pada nilai clock serta jumlah video memori yang digunakannya. Apalagi untuk versi R7 360 milik Sapphire ini, nilai clock default-nya sudah dinaikkan lebih tinggi lagi menjadi 1060 MHz serta kapasitas video memori sebesar 2048MB.

 

Dibandingkan dengan versi reference-nya, video card R7 360 milik Sapphire ini memang memiliki konfigurasi yang sedikit lebih tinggi. Anda bisa melihat perbandingannya pada tabel di bawah ini. Perbedaan yang paling kentara terletak pada konfigurasi clock GPU dan memorinya.  Selain itu, dikarenakan penggunaan pendingin custom serta pre-OC GPU maka kebutuhan dayanya pun meningkat dibandingkan versi reference-nya. Hal tersebut diindikasikan dari penggunaan 1×6-pin connector.

sapphire r7 360 (2)

Seluruh data hasil pengujian merupakan hasil benchmark murni menggunakan aplikasi benchmark terkait dengan konfigurasi sistem seperti yang tercantum di bawah ini.

PLATFORM PENGUJIAN

  • Prosesor: Intel Core i7-6700K @4.0 GHz
  • Motherboard: GIGABYTE Z170X GAMING G1
  • Graphics Card: AMD Radeon R7 300/200, AMD Radeon R9 300/200
  • Memory: 4x 4GB Team DDR4 (@2400 MHz; 1.65 V)
  • Storage: Team Dark 120 GB
  • Power Supply: Xigmatek NRP 700W
  • CPU Cooler: Noctua NH-L9x65
  • Display: BenQ Monitor XL Gaming @1920 x 1080, (1440p 7 4K using VSR mode)
  • OS: Windows 10 Pro 64-bit
  • Driver: Radeon Software Crimson Edition 15.12

HASIL PENGUJIAN

Pada pengujian game Tomb Raider dengan setting Ultimate preset di resolusi 1080p, video card ini mampu mencetak skor 25.3 fps saja. Sementara pada Grid 2 dengan setting yang sama, hasil yang diperoleh ternyata jauh lebih baik yakni 48.04 fps. Video card ini juga sempat kami ujikan dengan game terbaru bergenre RTS yakni Ashes of the Singularity di mana peran DirectX 12 diperlihatkan pada pengujian ini. Namun jika melihat hasil yang diperoleh, video card ini cukup kesulitan dalam menjalankan game Ashes of the Singularity karena scene yang ditampilkan cukup kompleks sehingga berpotensi menghasilkan draw call yang lebih tinggi. Dalam kasus ini, penggunaan DirectX 12 sangatlah penting, karena API yang digunakan dapat memaksimalkan kemampuan processor serta komunikasi antara CPU dan GPU menjadi lebih efektif.


 

 

 

 

 

 

Hadirnya tools terbaru untuk pengujian VR juga tidak luput untuk turut diujikan pada video card ini. Di mana kami menggunakan SteamVR Performance Test dan Rift Compatibility Tool. Namun sayangnya dari hasil tes yang dilakukan, Radeon R7 360 memang tidak mendukung untuk penggunaan VR sehingga tidak disarankan sama sekali.

idle

Dari sisi operasional, kondisi pada saat idle cukup rendah hanya 34ºC saja, namun ketika beban kerja bertambah suhunya naik hingga mencapai 76ºC . Selain itu daya yang digunakan untuk video card ini mencapai 141 Watt pada kondisi full load untuk pengujian dengan FurMark dan Ashes of the Singularity dengan resolusi 1440p. Sehingga minimum PSU yang kami rekomendasikan adalah 450 Watt dengan efisiensi di atas 80% yang dilengkapi 6-pin.

Share on Facebook0Tweet about this on Twitter0Share on Google+0Share on Tumblr

Comments

comments

Add a Comment